Timgad Rahasia Dibalik Kota Rahasia

Timgad Rahasia Dibalik Kota Rahasia

daftarpeninggalandunia.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Timgad Rahasia Dibalik Kota Rahasia. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Timgad Rahasia Dibalik Kota Rahasia

MISI POLITIK TERSELUBUNG
Saat orang Romawi memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Afrika Utara pada abad pertama SM, mereka ditentang sengit oleh beberapa suku yang hidup berkelana. Bagaimana orang Romawi bisa berdamai dengan penduduk setempat? Awalnya, tentara Legiun Agustus Ketiga membangun banyak tempat berbenteng dan pos jaga di daerah pegunungan yang luas, yang sekarang adalah Aljazair bagian utara. Belakangan, mereka membangun kota Timgad, tetapi dengan misi yang sangat berbeda.

Secara resmi, orang Romawi membangun Timgad bagi para veteran yang sudah pensiun. Tetapi, mereka sebenarnya membangun kota itu untuk melemahkan pertahanan suku-suku setempat. Rencana mereka berhasil. Kehidupan yang nyaman di Timgad segera menarik perhatian penduduk setempat yang datang ke kota untuk berdagang. Namun, hanya orang dengan kewarganegaraan Romawi yang boleh tinggal di sana. Karena banyak penduduk asli ingin tinggal di Timgad, mereka mau menjadi tentara Legiun Romawi selama 25 tahun agar mereka dan putra mereka bisa mendapat kewarganegaraan Romawi.

Beberapa orang Afrika tidak puas hanya menjadi warga negara Romawi. Belakangan, mereka bahkan menduduki posisi penting di Timgad atau kota koloni lainnya. Siasat halus orang Romawi untuk berbaur dengan penduduk asli itu berhasil. Hanya dalam waktu 50 tahun setelah kota ini berdiri, penduduk Timgad kebanyakan adalah orang-orang Afrika Utara.

KOTA INDAH ITU LENYAP
Setelah Kaisar Trayanus membangun kota itu pada 100 M, orang Romawi mulai meningkatkan hasil biji-bijian, minyak zaitun, dan anggur dari seluruh Afrika Utara. Daerah ini segera menjadi sumber utama hasil bumi tersebut untuk kekaisaran Roma. Seperti kota koloni lainnya, Timgad makmur di bawah pemerintahan Romawi. Akhirnya, jumlah penduduknya meningkat, dan kota itu diperluas jauh melewati tembok perbatasannya.

Penduduk kota dan pemilik tanah makmur karena perdagangan dengan Roma, tetapi petani setempat tidak banyak merasakan manfaatnya. Pada abad ketiga M, ketidakadilan sosial dan pajak yang terlalu tinggi memicu pemberontakan dari petani kecil. Beberapa dari mereka yang tadinya menganut Katolik menjadi pengikut Donatisme, yaitu sekelompok orang yang mengaku Kristen yang menentang korupsi di dalam Gereja Katolik.—Lihat kotak ” Pengikut Donatisme—Bukan Kristen Sejati”.Setelah pertikaian agama, perang sipil, dan penyerbuan orang barbar selama ratusan tahun, peradaban Romawi tidak lagi berpengaruh di Afrika Utara. Pada abad keenam M, Timgad dibakar habis oleh suku-suku Arab setempat dan akhirnya lenyap selama lebih dari 1.000 tahun.

Baca Juga : Dari Masjid Jadi Katerdal Cordoba Mezquita

”ITU BARU HIDUP!”
Para arkeolog yang menggali puing-puing Timgad merasa geli ketika membaca tulisan Latin yang ditemukan di alun-alun. Bunyinya: ”Berburu, mandi, bermain, tertawa—itu baru hidup!” Seorang sejarawan Prancis mengatakan bahwa ini ”menyuarakan semboyan untuk kehidupan yang mungkin kurang bermakna, tetapi ada juga yang menganggap itu kata-kata yang sangat bijak”.

Selama beberapa waktu, begitulah kehidupan orang Romawi. Paulus, seorang rasul Kristen abad pertama, pernah menyebutkan orang yang semboyan hidupnya ”Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita akan mati”. Meski mereka beragama, orang Romawi hidup hanya untuk bersenang-senang, tanpa memikirkan arti dan tujuan hidup yang sebenarnya. Paulus memperingatkan rekan Kristennya untuk berhati-hati terhadap orang seperti itu dengan mengatakan, ”Janganlah disesatkan. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang berguna.”—1 Korintus 15:32, 33.

Meski penduduk Timgad hidup sekitar 1.500 tahun yang lalu, pandangan orang tentang kehidupan tidak banyak berubah. Banyak orang saat ini kurang memikirkan masa depan. Bagi mereka, semboyan hidup orang Romawi itu masuk akal, apa pun akibatnya. Sebaliknya, Alkitab memberikan pandangan yang jelas dan masuk akal ini, ”Adegan pentas dunia ini sedang berubah.” Maka, kita diimbau untuk ’tidak menggunakan dunia ini sepenuhnya’.—1 Korintus 7:31.

Puing-puing Timgad adalah bukti nyata bahwa kehidupan yang bahagia dan bermakna tidak bisa diperoleh dengan mengikuti semboyan yang sudah lama terkubur dalam pasir di Afrika Utara. Sebaliknya, rahasianya adalah dengan mengikuti pengingat Alkitab, ”Dunia ini sedang berlalu, demikian pula keinginannya, tetapi ia yang melakukan kehendak Allah akan tetap hidup untuk selamanya.”—1 Yohanes 2:17.

Related posts