Sejarah Peninggalan Kerajaan Siak

Sejarah-Peninggalan-Kerajaan-Siak

daftarpeninggalandunia – Kabupaten Siak adalah salah satu daerah di Provinsi Riau. Di kawasan yang beribukotakan Siaksriindapura ini terdapat istana Kerajaan Siak.
Perjalanan ke daerah ini bisa ditempuh selama 2,5 jam. Ini jika menggunakan bus dari Terminal Bandaraya, Pekanbaru, dengan tarif Rp 20 ribu. Sepanjang perjalanan darat, terdapat pipa minyak dan perkebunan kelapa sawit. Ini menandakan, Riau merupakan salah satu penghasil minyak.

Tim Melancong Yuk menuju Siak dengan cara menyeberang menggunakan kapal Ferry. Sebenarnya, sarana transportasi ini tidak mematok tarif. Namun, penumpang biasanya memberikan Rp 5.000 sebagai tips. Perjalanan ditempuh hanya selama lima menit.

Di Siak, terdapat sebuah pasar tradisional. Di pasar ini, bangunan toko masih terbuat dari kayu dan berbentuk rumah.

Selain itu di kawasan yang beribukotakan Siaksriindapura ini terdapat kerajaan Siak. Di tempat ini, ada sebuah istana tak berpenghuni bernama Istana Asseraiyah Hasyimiah.

Istana ini dibangun pada 1889 oleh Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Arsitektur bangunan ini bernuansa Arab dan Eropa. Hal ini membuat pengunjung bisa merasakan nuansa Islami dengan gaya Eropa.

Di istana megah ini tersimpan sebuah meriam di salah satu ruangannya. Pada zaman dulu, meriam ini digunakan sebagai alat perang. Terkadang juga dibunyikan sebagai tanda datangnya bulan suci Ramadan serta Hari Raya Idul Fitri. Senjata ini mempunyai sejarah yang unik. Konon pada 1960, meriam ini pernah dicuri dan dipotong. Kapal yang membawa meriam curian ini sempat tenggelam. Anehnya, ketika meriam diangkat, kapal tersebut timbul di Teluk Salak.

Ada pula, singgasana asli milik Sultan yang dibalut emas 18 karat. Di samping singgasana terpampang gambar Sultan terakhir Siak, yakni Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II). Di sini juga tersimpan sebuah cermin milik permaisuri kerajaan. Konon, orang yang memakai cermin ini bisa terlihat lebih muda.

Masih di ruangan yang sama, ada replika mahkota kerajaan yang berlapis emas 24 karat. Tak hanya itu, terdapat juga alat perjamuan permaisuri yang terbuat dari kristal. Alat ini khusus dibuat di Cekoslovakia pada 1889.

Baca Juga : Misteri Kuil Luxor Di Mesir

Komet, sejenis alat musik gramophone terdapat di salah satu sudut istana. Pemutar musik ini hanya ada dua di dunia. Selain di Siak, Komet juga terdapat di Jerman. Alat berbentuk piringan besi berukuran besar ini merupakan cenderamata yang dibawa Sultan dari Eropa. Dari alat ini, kerap terdengar alunan musik klasik.

Selain itu, di Siak juga terdapat Klenteng To Pe Kong. Dibangun pada 1871, Klenteng ini merupakan bangunan tertua di Siak.

Dalam perjalanan kali ini, tim juga berkesempatan menyaksikan acara pernikahan adat Melayu. Sebagai bagian dari acara, rombongan pengantin pria mempersembahkan atraksi pencak silat. Para pesilat menganggap pengantin pria sebagai raja.

Rombongan kemudian disambut tarian persembahan. Selain untuk acara perkawinan, tarian ini juga digelar untuk menyambut tamu kehormatan. Dalam pernikahan adat ini, kedua mempelai memakai baju pengantin khas melayu yang didominasi warna merah, kuning dan hijau dengan dihiasi manik-manik.

Perjalanan diteruskan ke tempat pembuatan kain tenun khas Siak. Untuk membuat kain tenun ini, diperlukan waktu tiga hingga sembilan hari. Ini tergantung tingkat keragaman dan keragaman motif kain tenun. Harganya pun cukup bervariasi, yakni antara Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu. Kain ini biasanya dipakai pada acara resmi atau pernikahan.

Di Siak juga terdapat jembatan yang dinamakan Tengku Agung Alatifah. Jembatan ini menghubungkan Tanjung Agung dan Siaksriindapura. Keistimewaan jembatan ini terdapat pada kedua tiangnya. Nantinya, di kedua tiang akan dibangun restoran dan fasilitas wisata lainnya.

Sebelum pulang, tim sempat mampir ke Pasar Bawah. Ini merupakan tempat perbelanjaan wisata di Pekanbaru. Uniknya, di sini terdapat barang-barang luar negeri. Antara lain, keramik, dan guci dari Cina serta Malaysia, taplak meja dari Arab, serta selendang dan kerudung dari Thailand.

Selain itu, ada pula karpet yang diimpor langsung dari Persia, Belgia dan Turki. Ini bisa didapatkan dengan harga yang cukup bervariasi. Bagi penggemar kuliner, di sini juga dijual penganan khas Pekanbaru. Antara lain, Bolu Kemojo dan Lempu Durian yang terbuat dari durian dicampur gula pasir.

Perjalanan diakhiri di Hotel Aryaduta. Seorang chef di sini memperkenalkan makanan khas Pekanbaru, yakni soto Pekanbaru. Berbeda dengan bumbu soto lainnya yang biasa ditumis, bumbu soto ini digiling terlebih dulu. Ada pula, patin asam pedas yang dibuat dari bumbu bawang merah, bawang putih, cabe merah, dan tomat.

Related posts